Optimisme yang kejam
Kecemasan ini seperti bugs sistem syaraf yang rusak, sekaligus respons wajar dari organisme yang sadar, ada yang tak normal.
Saya berbohong kepada seorang teman yang nelpon dan bertanya kabar. Saya jawab “baik-baik saja”—sambil menatap plafon kamar yang catnya menghitam persis di atas kepala, dan tetesan air lantaran hujan menembus atap hingga membasahi lantai. Seperti metafora, tapi bagi sebagian mungkin nyata.
Tiga malam ini saya tidak bisa tidur sebelum pukul tiga pagi, bukan karena produktif, melainkan otak saya menolak untuk berhenti menghitung: sisa tabungan dibagi tagihan bulan depan, hasilnya selalu bilangan negatif yang tidak pernah saya pelajari di bangku kuliah mana pun.
Cahaya biru gawai adalah satu-satunya lampu yang menyala. Di luarnya, gang sempit sudah sunyi. Kucing tetangga yang biasanya ribut sudah menyerah. Tinggal saya, layar ini, dan perasaan aneh bahwa ancaman kegagalan sistemik ekonomi global sedang duduk di atas dada.
Ini bukan sekadar karena kopi yang terlalu pekat. Saya tahu bedanya. Yang membuat saya tidak bisa tidur bukan hanya karena angka di rekening. Ada sesuatu yang lebih tua dari itu, lebih dalam dari sekadar kalkulasi finansial.
Saya menyadarinya ketika dua minggu lalu membeli sepasang sandal yang tidak saya butuhkan, dengan kartu kredit yang cicilannya belum lunas. Diskon 40% terasa seperti kemenangan kecil di tengah minggu yang melelahkan, membelinya adalah kenyamanan semu lewat transaksi.
Saya memakai sandal itu sekali. Sekarang dia duduk di sudut kamar, menatap balik dengan ekspresi yang persis sama dengan ekspresi saya setiap kali menengok saldo: kosong, tapi tak membuat berhenti berharap. Seperti saat menatap label harga kebutuhan pokok di rak-rak mini market.
Ini mungkin yang disebut Lauren Berlant Cruel Optimism—Optimisme yang Kejam. Dalam karya yang rasanya ditulis khusus untuk malam-malam seperti ini, Berlant mendefinisikan kondisi ketika sesuatu yang paling kita inginkan justru adalah penghalang terbesar bagi kesejahteraan kita sendiri.
Berlant menulis: “A relation of cruel optimism exists when something you desire is actually an obstacle to your flourishing.” Kalimat ini saya baca pukul dua pagi, di kamar yang sama, minggu lalu. Saya berhenti sebentar karena ia menghantam terlalu keras. Ini bukan teori, ini diagnosis.
Manusia menginginkan kendali. Saya mengira sandal itu memberikannya. Yang terjadi malah sebaliknya: saya kini punya satu bukti fisik lagi bahwa diri sendiri tidak bisa diandalkan. Saya mencoba meyakinkan bahwa saya masih mampu membeli, tapi saya sadar itu membohongi diri sendiri.
Kita terobsesi pada “kehidupan yang baik” yang ditawarkan sistem kapitalisme: rumah milik sendiri, pekerjaan tetap dengan asuransi, dan masa tua yang tenang. Namun, dalam realitas ekonomi yang terfragmentasi dan kian rapuh, mengejar fantasi tersebut justru membuat kita tetap terikat pada sistem yang terus-menerus mengisap sumsum kehidupan kita.
Optimisme ini berubah jadi kejam karena ia berfungsi sebagai jangkar yang menahan kita di tengah badai, terikat di leher kita. Di kehidupan nyata, mimpi mempertahankan “normalitas” di tengah sistem yang sudah tidak normal adalah bentuk sabotase diri yang paling halus namun mematikan.
Kita mencintai impian yang sebenarnya sedang mencekik kita pelan-pelan di kegelapan malam yang kian kelam. Mimpi atas harga kebutuhan pokok yang terjangkau menjanjikan "kenyamanan semu" stabilitas sosial-politik. Namun, kita tahu ini menciptakan utang fiskal masif yang membebani APBN.
Hari-hari ini kita cemas menghadapi ancaman melonjaknya harga BBM, yang dampaknya mengerek biaya hidup. Kecemasan itu wajar. Tapi subsidi menjanjikan stabilitas daya beli dan politik, meski ekonom mengingatkan APBN hanya tahan “beberapa minggu” sebelum defisit bengkak.
Rakyat yang terikat harga murah BBM subsidi sebagai “jangkar normalitas” mencerminkan hukum konsumsi dasar: ketika harga di bawah harga pasar, permintaan melonjak karena daya beli naik, padahal pasokan tertekan. Seperti subsidi BBM Rp210T di 2026 yang bisa picu konsumsi, bukan efisiensi.
Harga rendah tingkatkan konsumsi, ciptakan ketergantungan jangka pendek sebagai “obat penenang”—mirip cruel optimism Berlant saat harga yang stabil sebenarnya hambat reformasi fiskal seperti pajak karbon atau energi hijau.
Efeknya, distorsi pasar: APBN bocor, inflasi terselubung via defisit, dan harga komoditas lain naik karena crowding out anggaran. Hukum alam tak bisa ditolak; candu subsidi akan menunda penyesuaian, sementara akumulasi utang hambat diversifikasi ekonomi jangka panjang.
Pemerintah yang membakar kas negara demi subsidi sedang mempraktikkan Cruel Optimism pada skala nasional. Mereka menawarkan kenyamanan palsu—menghindari kecemasan—agar kita tidak memberontak, tetap menjadi roda gigi yang patuh dalam mesin yang sudah rusak.
Mereka menunda krisis dengan menciptakan utang masa depan, yang artinya mereka menggadaikan napas anak cucu kita demi ketenangan semu hari ini. Ini sarkasme paling brutal dari kekuasaan: mereka memberikan kita payung saat hujan badai, tapi terbuat dari kertas tisu simpanan hari tua.
Rasa hampa yang saya rasakan pukul tiga pagi ini adalah retakan dari fondasi impian tersebut, peringatan bahwa struktur yang menyangga identitas kita sebagai “kelas menengah” sedang mengalami keropos total.
Saya ingat teman yang bekerja di tiga tempat sekaligus. Siang jaga warung, malam konten kreator, dini hari sebagai driver ojol kalau mood-nya lagi gelap. Ia tidak pernah mengeluh. Yang ia lakukan adalah mengunggah reels tentang “hustle culture” dan menulis caption: “Tired but grateful.”
Saya tidak tahu apakah itu ketulusan atau pertahanan diri yang paling rapi. Mungkin keduanya. Tapi saya tak menampik kecemasan ini sebagai tanda. Kecemasan ini seperti bugs sistem syaraf yang rusak, sekaligus respons wajar dari organisme yang sadar, merasa ada yang tak normal.
Ini mungkin peringatan yang datang lewat jalur paling jujur: tubuh dan batin kita, sebelum filter sosial sempat bekerja. Yang berbahaya bukan cemasnya. Yang berbahaya adalah ketika kecemasan itu kita matikan sebelum sempat mendengar apa yang ingin ia katakan.
Malam ini, pukul tiga lewat dua belas, saya memutuskan untuk membiarkan gawai tetap menyala. Bukan karena sudah menemukan jawaban. Bukan karena buku tabungan mencatat transferan masuk atau plafon kamar yang berhenti mengelupas dan air rembesan itu berhenti menetes.
Kehampaan malam ini—mungkin Anda rasakan juga pada malam berbeda—adalah sinyal, bukan kutukan. Ia suara dari diri kita yang belum menyerah, yang masih cukup hidup untuk merasa ada yang tidak beres, menolak untuk menerima “begini saja sudah cukup” sebagai vonis akhir.
Berlant bilang kita harus berani melepaskan objek keinginan yang menyandera. Saya tidak tahu persis seperti apa dunia yang akan tersisa setelah pelepasan itu. Saya belum sampai ke sana. Tapi saya curiga ia lebih jujur daripada sandal yang sedang menatap saya dari sudut kamar.
