Memburu token keabadian
Kemampuan merenung, berbahasa, merancang masa depan bertabrakan dengan konsep kefanaan. Teror lantaran tabrakan ini membuat kita memilih untuk menyangkal.
Saya scrolling sambil ngopi bubuk instan yang rasanya sudah kayak air kobokan. Di hadapan saya, unggahan remaja Gen Z dengan backsound musik melankolis, mengeluhkan isu krisis iklim. Di sebelahnya, influencer lain menjual skin care yang menjanjikan wajah awet muda.
Di kepala saya berputar sebuah pertanyaan eksistensial yang dingin: mengapa kita sangat terobsesi pada keindahan yang fana dan kemarahan yang performative? Jawabannya tergeletak, seperti ranjau yang siap meledak, dalam teori Ernest Becker di buku The Denial of Death (1973).
Becker, seorang pemikir yang dianugerahi Pulitzer secara anumerta, menyatakan bahwa seluruh peradaban kita, dari katedral batu hingga feed TikTok yang mulus, hanyalah sebuah pertunjukan kolosal dan absurd untuk menipu diri sendiri.
Kita adalah dewa dengan anus, makhluk simbolis yang mampu menciptakan puisi dan kode komputer. Namun, terperangkap dalam tubuh cacing biologis yang pasti akan membusuk.
Ini dilema mengerikan umat manusia: Kesadaran (kemampuan merenung, berbahasa, merancang masa depan) bertabrakan keras dengan kefanaan (kepastian sakit, tua, dan mati). Teror lantaran tabrakan konsep ini begitu masif, sehingga kita memilih untuk menyangkalnya.
Kita mengalihkan energi itu jadi obsesi pada makna dan pencapaian abadi. Becker menyebutnya Proyek Keabadian (Immortality Project).
Teori Becker diangkat ke laboratorium modern melalui Terror Management Theory (TMT) yang dikembangkan Sheldon Solomon, Jeff Greenberg, dan Tom Pyszczynski. TMT membuktikan bahwa pertahanan kita terhadap teror eksistensial sejatinya tersusun dari dua benteng: Pandangan Dunia Kultural (PDK) dan Harga Diri (Self-Esteem).
PDK adalah Sistem Operasi (OS) kolektif yang kita instal sejak lahir. PDK mendefinisikan apa yang baik, apa yang penting, dan bagaimana seseorang menjadi “layak.” Dalam OS ini, PDK menawarkan janji keabadian—bila hidup sesuai skrip, kita akan dikenang atau diberi kehidupan setelah kematian.
Kini, PDK tidak lagi didominasi agama atau negara. PDK kita sekarang adalah jaringan semesta digital, didorong oleh kapitalisme perhatian. Keabadian yang dijual adalah imortalitas simbolis digital—menciptakan avatar digital yang selalu on, muda, dan memiliki legacy di cloud. Kegagalan mencapai clout di OS ini terasa seperti kegagalan eksistensial.
Jika PDK adalah skripnya, Harga Diri adalah perasaan “berhasil memainkan peran pahlawan” dalam skrip itu. Harga diri di sini bukan sekadar merasa self-love, melainkan keyakinan bahwa Anda adalah kontributor berharga. Anda pun memenuhi standar budaya, sehingga eligible mendapatkan keabadian.
Dalam konteks digital, setiap like, setiap repost, setiap validasi adalah Token Keabadian yang kita kumpulkan untuk meyakinkan diri bahwa kita belum mati. Mendapatkan blue tick di media sosial terasa seperti mendapatkan verifikasi eksistensial dari alam semesta. Semakin banyak token yang kita kumpulkan, semakin kita bisa menekan “teror” itu jauh ke bawah sadar.
Ketika kita diingatkan secara eksplisit tentang kematian—Mortality Salience (MS)—kita mengaktifkan Pertahanan Distal (Distal Defense). Ini perlindungan terhadap teror eksistensial yang beroperasi secara sadar, kognitif, dan simbolis untuk mengukuhkan sistem keyakinan seseorang.
Ini bukan sekadar memakai masker (pertahanan proksimal); ini adalah pertahanan simbolis dan sering kali irasional. Dua manifestasi dari Pertahanan Distal yang paling viral pada 2025 adalah:
FoMO (Fear of Missing Out): Ini bukan hanya takut ketinggalan gosip. Ini adalah kecemasan eksistensial karena takut terputus dari PDK kolektif. Jika Anda tidak ikut tren, Anda tidak relevant. Jika Anda tidak relevan, Anda tidak layak mendapatkan Token Keabadian. Status pahlawan Anda pun runtuh. FoMO adalah alarm keras bahwa Anda bisa lenyap tanpa bekas.
Cancel Culture dan Hostilitas Outgroup: TMT secara konsisten menunjukkan bahwa ketika MS tinggi, orang menjadi lebih agresif terhadap kelompok luar (outgroup) yang memiliki PDK berbeda. Bagi keyboard warrior, ini bukan sekadar beda pendapat politik atau moral; ini adalah Perang Worldview. Kelompok yang “di-cancel” dianggap mengancam fondasi makna kita, dan dengan demikian, mengancam janji keabadian kita.
Seperti yang dijelaskan Sheldon Solomon, salah satu pendiri TMT: “Because cultural conceptions of reality keep a lid on mortal dread, acknowledging the legitimacy of beliefs contrary to our own unleashes the very terror those beliefs serve to quell. So we must parry the threat by derogating and dehumanizing those with alternative views of life...”
Dengan menyerang outgroup, kita menegaskan kesucian mutlak PDK kita sendiri, dan merasa aman kembali dalam janji keabadian. Konflik ideologi di media sosial adalah pengalihan massal dari ketakutan akan kematian.
Kekuatan besar TMT terletak pada validasi empirisnya yang luas. TMT menjelaskan banyak perilaku irasional. Dalam studi, ketika hakim diingatkan tentang kematian, mereka memberikan denda yang jauh lebih tinggi bagi pelanggar yang mengancam worldview (misalnya, pelacur).
Ketika orang diingatkan tentang kematian, mereka cenderung mengidolakan pemimpin kharismatik yang menawarkan solusi totaliter (janji keselamatan dan makna yang mutlak). Mereka juga menjadi lebih materialistis; uang dipandang sebagai simbol keabadian. TMT membongkar bahwa di balik tirai politik dan ekonomi, selalu ada trauma psikologis.
Namun, kritik terhadap cakupan TMT juga ada. Apakah semua perilaku didorong oleh ketakutan? Beberapa akademisi mempertanyakan replikasi beberapa temuan di konteks budaya yang berbeda, dan apakah TMT mencakup semua aspek kecemasan.
Yang paling menarik adalah solusi alternatif yang ditawarkan filsafat kuno, yang disebut Jalan Keluar Sokratik. Becker menyiratkan bahwa penolakan tidaklah mutlak. Kita bisa menolak Proyek Keabadian yang toxic. Filsafat stoik dan Sokratik mengajarkan “praktik mati”—menghadapi kefanaan secara sadar.
“Praktik Mati” (premeditatio malorum dalam Stoikisme) adalah intisari dari filsafat Sokrates dan mazhab Stoik kuno (seperti Marcus Aurelius dan Seneca). Konsep ini menantang tesis Becker bahwa “penolakan adalah satu-satunya respons”. Alih-alih, mereka mengajarkan bahwa penerimaan terhadap kematian adalah puncak dari hidup yang dijalani dengan baik.
Jalan keluar Sokratik mematikan tombol Proyek Keabadian yang toxic dan beralih dari pencarian clout menjadi pencarian Kebajikan (Virtue). Dengan menerima bahwa tubuh ini akan membusuk, kita bebas menghargai momen yang kita miliki sekarang, tanpa perlu memintanya bertahan selamanya.
Sokrates terkenal dengan ungkapan, “Hidup yang tidak teruji tidak layak dijalani.” Maka, jalan keluar Sokratik meminta kita untuk menghadapi realitas fana kita secara sadar dan rasional. Ini berarti berhenti mencari makna dari luar diri kita (dari likes, clout, atau harta benda) dan mulai menguji nilai dan tindakan kita sendiri.
Keberanian sejati itu menerima bahwa kita adalah cacing biologis, dan berhenti menuntut validasi abadi dari OS budaya yang rusak dan penuh kepalsuan. Hanya aktor di panggung paling absurd yang berlari dari bayangan kematian sebenarnya. Lalu sibuk mencari Token Keabadian di layar, sementara tubuh pelan-pelan membusuk.
Jalan Keluar Sokratik, karenanya selaras dengan Freire; ia adalah senjata pamungkas untuk memutus ketergantungan psikologis kita pada sistem opresif. Anda tidak bisa membebaskan dunia luar jika Anda sendiri masih diperbudak oleh teror kematian di dalam jiwa Anda.
Pembebasan sejati, ala Freirean, hanya terjadi ketika kita berani melihat kedua penindas kita: Penindas di luar sana (struktur kekuasaan) dan Penindas di dalam sana (teror kefanaan).
Pahlawan sejati bukan dia yang paling banyak follower-nya, melainkan yang berani menekan tombol shutdown pada Proyek Keabadian yang menipu. Dia yang memutuskan untuk berhenti mencari clout, dan memilih untuk hadir dan nyata dalam momen fana ini.
