Ketika jaringan jeprut
Kita adalah peradaban yang mampu menciptakan kecerdasan buatan super canggih, namun tak sanggup melindungi diri dari kebodohan fundamental.
Ada kalanya potongan ingatan melintas pada momen tak terduga. Misal setelah keheningan pagi digugat alarm digital dari hape yang berbunyi. Hanya setengah-detik sebelum meraihnya untuk menghentikan raungan alarm itu, saya menyadari satu hal yang terasa menggelikan: Tidak bisa mengingat tanggal lahir nenek tanpa membuka kalender digital di ponsel.
Tentu saja, memori itu ada di sudut otak, tertimbun di bawah tumpukan notifikasi email, update algoritma, dan janji temu virtual yang entah kenapa terasa lebih urgen daripada darah daging sendiri. Namun, lantaran lupa mengecas hape sebelum tidur, hasrat mengecek tanggal lahir nenek pun urung terlaksana—saat ponsel saya kehabisan baterai. Layar hitam. Mati.
Seketika, bukan hanya akses ke tanggal lahir yang hilang, tetapi seluruh infrastruktur mental runtuh. Saya berdiri di tengah ruangan, merasakan kedinginan eksistensial. Sebuah alat kecil, seberat beberapa ons, mampu merampas ingatan, navigasi, hingga keberadaan saya. Ini yang terjadi, pikir saya, ketika kita menyerahkan seluruh sendi kehidupan pada sebuah Mesin.
Inilah drama abadi abad ke-21, sebuah komedi gelap yang harus kita mainkan. Kita adalah kaum yang paling terkoneksi dalam sejarah umat manusia, sebuah fakta yang disahkan oleh data mutakhir: 229,4 juta pengguna internet di Indonesia pada 2025—sebuah penetrasi yang mencapai 80,66 persen, didominasi oleh para digital native generation.
Indonesia memegang rekor sebagai negara dengan persentase tertinggi masyarakat yang mengakses internet melalui ponsel. Menurut Digital 2025, sekitar 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas yang mengakses internet, aksesnya lewat smartphone. Jumlah ponsel bahkan melebihi jumlah populasi—menjadikan kita subjek Mesin di seantero planet.
Tapi di balik angka-angka megah itu, kita menemukan kontradiksi yang mematikan: kita menjadi rumah bagi individu yang paling teralienasi, terserap dalam gelembung ‘Brain Rot’. Sebuah kondisi penurunan kapasitas mental akibat konsumsi konten digital yang berlebihan.
Kita tidak lagi terisolasi oleh dinding batu atau jarak fisik, tetapi oleh kecepatan jaringan yang menuntut kita terus bergerak. Kita punya Mesin yang menjanjikan segalanya, namun lupa bahwa janji itu datang dengan biaya: hilangnya otonomi dan, yang parahnya, kemampuan untuk diam dan berpikir.
Kita menjadi pelari maraton yang kakinya digerakkan oleh chip nirkabel.
Kita telah lama melampaui era media sosial sebagai sarana interaksi. Platform terkini, dari TikTok yang memabukkan hingga YouTube yang menghipnotis, bukan sekadar media. Ia sebuah arsitektur perilaku yang dirancang secara halus untuk mengubah pengguna menjadi produk yang patuh dan prediktif.
Kita menghabiskan rata-rata 4 hingga 6 jam per hari di depan layar—durasi yang sebelumnya didedikasikan untuk seni, olahraga, atau interaksi sosial nyata—sekarang dialihkan untuk memproses potongan-potongan informasi yang cepat, dangkal, dan mudah dilupakan.
Hasilnya? Degradasi kognitif yang disebut Brain Rot tadi. Ini bukan sekadar lelucon Gen Z tentang otak yang busuk. Ini adalah diagnosis sosial yang serius. Sebabnya, terus-menerus disuapi konten ringkas, tanpa tantangan.
Otak kita, layaknya otot yang jarang dilatih untuk maraton, kehilangan kemampuannya untuk berfokus dalam jangka waktu panjang, menurunkan kemampuan berpikir kritis yang dibutuhkan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menghubungkan informasi secara mendalam.
Kita menjadi ahli dalam scrolling dan reaction, tapi lumpuh dalam reflection dan reasoning. Kita tertawa pada video konyol, namun seringkali gagal menuntaskan bacaan tak seberapa seperti esai ini.
Ketika Mesin beroperasi, ia tidak hanya memberikan informasi, ia juga mencuri waktu dan kapasitas kita untuk menciptakan pengetahuan kita sendiri. Mematikan api kesadaran kritis yang seharusnya kita miliki. Kita merasa pintar karena banyak tahu, padahal sekadar penyimpan sementara yang datanya akan terhapus setelah cache dibersihkan.
Untuk memahami mengapa kita begitu rela menjadi budak Mesin, kita harus beralih dari pengawasan fisik ala Panopticon ke konsep yang lebih modern, lebih halus, dan jauh lebih berbahaya: Psikopolitik (Psychopolitics). Salah satu yang secara kritis bicara soal ini adalah seorang filsuf, Byung-Chul Han.
Han berargumen bahwa kita telah beralih dari Masyarakat Disiplin yang dikontrol melalui larangan dan perintah menuju Masyarakat Prestasi (Achievement Society) yang dikontrol melalui kebebasan dan eksploitasi diri. Mesin digital adalah medium utama Psikopolitik, sekaligus sang arsitek ilusi.
Dalam sistem Psikopolitik, kita tidak perlu dipaksa. Mesin menciptakan ilusi kebebasan total: kita bebas memilih konten, bebas berekspresi, ‘menjadi diri sendiri’ di TikTok. Tapi, kebebasan ini hanyalah fasad yang indah untuk eksploitasi yang dimaksimalkan.
Kita adalah entrepreneur dari diri kita sendiri, terus-menerus didorong oleh narasi neoliberal untuk menjadi ‘lebih baik’, ‘lebih sukses’, ‘lebih bahagia’. Gilanya, semua itu harus diukur, ditampilkan, dan divalidasi oleh Mesin (melalui likes, engagement, dan follower).
Ini yang membuat hidup kita menjadi sebuah pertunjukan tak berkesudahan. Kita adalah aktor sekaligus penonton bagi diri sendiri. Puncaknya: kita adalah algojo bagi diri kita sendiri.
Kecemasan dan depresi yang menghantui Gen Z bukanlah efek samping. Ia produk sampingan dari mesin Psikopolitik yang terus mendesak kita meraih prestasi tanpa henti. Kita tertekan karena harus bersaing dengan standar hidup yang tidak realistis di media sosial. Menjalani perbandingan sosial yang konstan, dan menghadapi ketidakpastian masa depan.
Mesin ini beroperasi dengan memanfaatkan FOMO (Fear of Missing Out)—rasa takut tertinggal—yang memaksa kita terus online dan produktif secara digital.
Kebebasan digital kita sejatinya tirani batin yang paling kejam. Kita bekerja lembur untuk menciptakan data gratis bagi para Surveillance Capitalists, dan kita membayar lunas dengan kesehatan mental kita sendiri. Mesin tidak mengambil nyawa kita, tapi ia merampas kewarasan kita secara cicil.
Dalam esainya yang sangat relevan, Han menjelaskan mekanisme ini dengan tajam, sebuah realitas yang membuat kita terperangkap dalam sangkar digital yang kita bangun sendiri.
“Neoliberalisme tidak menjadikan kita subjek (bawahan), tetapi menjadikan kita pengusaha atas diri kita sendiri. Kita adalah subjek berprestasi. Kita adalah pengusaha eksploitasi diri.”
(Psychopolitik: Neoliberalismus und die neuen Machttechniken oleh Byung-Chul Han)
Mesin ini tidak menyerang, ia hanya memprovokasi kita untuk menyerang diri sendiri. Kita menjadi kecanduan self-tyranny, karena setiap scroll adalah janji palsu akan prestasi atau validasi sosial. Ia menjanjikan kebebasan, namun ia beroperasi seperti budak yang memegang cambuknya sendiri. Kita terus berlari, padahal garis finish itu tidak pernah ada.
Kontradiksi ini diperparah dengan fakta bahwa Mesin yang kita sembah ini sangat rapuh. Kita bergantung padanya untuk segala hal, mulai dari transaksi hingga hotline rumah sakit. Kita bahkan menutup mata pada kerentanannya. Kita hidup di era “Perang Tanpa Peluru”, saat serangan siber bukan lagi fiksi ilmiah melainkan rutinitas harian yang dapat mengancam stabilitas nasional.
Tengoklah data semester pertama 2025: Indonesia mengalami 133,4 juta serangan siber, dan sektor kritis seperti energi dan keuangan adalah target utama. Kebocoran 40 juta data peserta BPJS Kesehatan pada April 2025 atau lumpuhnya sistem bank sentral akibat phishing adalah lonceng pengingat. Namun, kita terlalu sibuk membuat konten TikTok untuk menyimaknya.
Kerapuhan ini berpangkal pada dua hal yang saling terkait: kompleksitas tak terbatas dan kesalahan manusia (human error). Laporan menunjukkan lebih dari 90% serangan siber terjadi karena faktor manusia—satu password lemah, satu klik pada tautan phishing.
Kita, si pengusaha eksploitasi diri itu, adalah titik lemah mesin. Kita membangun Menara Babel digital menjulang tinggi dan rumit, hingga satu sentuhan yang salah bisa meruntuhkan seluruh arsitektur ekonomi digital yang menopang hidup kita.
Ketika Mesin benar-benar stop—bukan sekadar buffering atau lag—yang mati bukan hanya jaringan internet. Yang mati adalah sistem logistik, bank, rumah sakit, dan identitas kita. Kita tidak hanya akan kehilangan sinyal, kita akan kehilangan uang, data, kesehatan, dan kedaulatan.
Jika Han menunjukkan bahwa kita adalah korban dari self-exploitation yang didorong oleh Psikopolitik, maka kita membutuhkan cara untuk menarik diri dari tirani batin itu. Paulo Freire mengajari kita bahwa pembebasan dimulai dari kemampuan untuk melihat dan memahami penindasan struktural, bukan sebagai nasib atau takdir, melainkan hasil dari human action yang bisa diubah.
Dalam konteks mesin digital, itu berarti kita harus berhenti melihat layar sebagai jendela. Jadikan ia cermin yang memantulkan eksploitasi diri kita. Untuk melawan Mesin Psikopolitik dengan tuntutan terus “berprestasi”, kita harus berani menumbuhkan refleksi mendalam—kemampuan yang dicuri oleh Brain Rot—agar kita mampu menolak peran sebagai budak data yang terus-menerus memproduksi konten demi memuaskan Mesin.
Kita perlu jeda, seperti sebuah lagu yang diulang, untuk merangkai kembali pecahan-pecahan pikiran yang terlanjur dipecah-pecah oleh konten instan. Kita harus berani JOMO (Joy of Missing Out)—merayakan kebahagiaan karena tidak ikut dalam arus hype dan validasi digital.
Ini bukan seruan untuk kembali ke zaman batu, melainkan seruan untuk kembali menjadi subjek yang aktif, bukan sekadar objek yang pasif. Kita harus mengendalikan mesin sebelum mesin mengendalikan kita.
Ingatlah meski Mesin itu terus berputar, mengeluarkan dengungan yang lembut dan dingin, menjanjikan koneksi, tetapi justru menyuntikkan isolasi. Kita, si pengguna yang kecanduan, telah bermutasi menjadi spesies baru: Homo Digitus Absurdus—manusia jari yang konyol.
Kita memiliki ratusan teman digital di genggaman, namun saat listrik mati, bahkan tidak tahu nama tetangga. Kita punya akses ke seluruh informasi dunia, namun kemampuan untuk berpikir logis justru tergerus brain rot.
Ketika suatu hari, mesin itu benar-benar stop, kita akan berdiri di tengah kekosongan, memegang kotak persegi panjang yang mati. Kita akan bingung harus melangkah ke mana, sebab selama ini mesin yang memberi kita arah.
Maka, esai ini adalah sebuah bisikan sarkastik: Sebelum mesin itu benar-benar mati, cobalah sesekali untuk berhenti. Matikan layar. Rasakan lantai di bawah telapak kaki Anda. Ingat tanggal lahir nenek Anda tanpa bantuan cloud. Jika kita lupa caranya berjalan di dunia nyata, ketika jaringan itu putus, kita akan sadar bahwa kita tak lagi punya kaki.
Kita adalah peradaban yang mampu menciptakan kecerdasan buatan super canggih, namun tak sanggup melindungi diri dari kebodohan fundamental: ketergantungan yang disamarkan sebagai kebebasan.
